Halaman

Sabtu, 06 November 2010

SHOLAT WITIR

Shalat witir bagi sebagian orang mungkin terlupakan karena waktunya adalah setelah shalat Isya’ hingga datangnya fajar subuh. Waktu-waktu tersebut adalah waktu tatkala badan terasa lelah setelah seharian beraktifitas; waktu di mana sang pekerja istirahat, waktu di mana sang ibu meninabobokan putra-putrinya, waktu di mana sang pelajar asyik dengan tugas-tugasnya dan waktu di mana sang pemalas untuk berkencan dengan bantal dan guling.

Hukum dan Keutamaan Shalat Witir

Shalat witir hukumnya sunnah muakkadah yaitu sunnah yang ditekankan sekali. Meskipun ditekankan sekali namun bukan berarti menjadi wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah meninggalkan shalat witir baik saat bermukim maupun sedang bepergian.

Dasar Pelaksanaan Sholat Witir

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.” (Muttafaqun’alaihi)

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia bertutur,

SHOLAT ISTISQO' (SHOLAT MINTA HUJAN)

Sholat Istisqo (ada juga yg menuliskan istisqo’ atau istisqa) adalah salah satu sholat sunnah yg dilakukan/dicontohkan Rasululloh SAW apabila terjadi kekeringan/kemarau yg berkepanjangan.

Dari beberapa referensi yg aku dapatkan, ada beberapa cara pelaksanaan istisqo (meminta hujan). Namun aku ambil dari buku Fiqh Islam, karya H.Sulaiman Rasjid, di sana disebutkan ada 3 cara:

1. Berdoa kepada ALLOH SWT agar hujan segera diturunkan. Pelaksanaannya bisa dilakukan sendiri-sendiri, ataupun berjamaah (selesai sholat berjamaah di masjid). Hadits dari Abu Daud menyatakan Rasululloh SAW mencontohkan cara ini.


SHOLAT TARAWIH


Sebenarnya dalam permalasalahan jumlah raka'at shalat tarawih tidak ada masalah sama sekali. Tidak ada masalah dengan 23 raka'at atau 11 raka'at. Semoga kita bisa semakin tercerahkan dengan tulisan berikut.

Shalat Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)