Sebuah kewajaran, kegiatan yang dilakukan terus menerus akan memberikan efek jenuh dalam jiwa. Sepertinya ini yang saya alami seminggu yang lalu, bukan bermaksud mengeluh atau tidak bersyukur, ini murni perasaan saya sebagai manusia biasa lho :) yang kadang jenuh terhadap rutinitas yang monoton.
1.Ganti benda-benda yang ada
2.Pakai seragam/baju yang berbeda dari yang biasa anda pakai
3. Pindah letak meja kerja
4. Ganti cara anda menuju ke tempat kerja
5. melakukan hobi disela2 waktu kerja
Peringatan!
Bila kejenuhan tidak hilang2 selama 30 hari terhitung dari sekarang, segera hubungi atasan anda untuk minta dipindah tugaskan!
Ini adalah blog keduaku di blogspot dan agak terlupakan tapi akan tetap diaktifkan dan diisi dengan artikel-artikel yang Agamis maupun artikel bebas yang menarik menurutku dan semoga menarik juga menurut pengunjung.....
Tampilkan postingan dengan label MENEJEMEN EMOSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MENEJEMEN EMOSI. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Mei 2013
Kamis, 09 Februari 2012
Menejemen Sakit Hati
Hampir setiap orang tentu pernah mengalami sakit hati dalam hidupnya. Baik dalam keluarga, berteman, maupun bermasyarakat. Sebagaimana sifat sedih dan gembira, rasa yang satu ini adalah suatu kewajaran dalam hidup manusia. Apalagi, mengingat manusia adalah mahluk sosial, yang dalam setiap interaksinya tidak lepas dari kekhilafan.
Sebab-sebab datangnya perasaan ini pun bermacam-macam. Dari masalah sepele hingga masalah besar, dapat menjadi pemicunya. Misalnya berawal dari perbedaan pendapat, adanya konflik atau ketidakcocokan, hingga iri dan dengki. Bila perasaan ini dibiarkan terlalu lama bercokol dalam hati, maka tidak sehatlah hati itu. Pemiliknya pun akan stress dan jauh dari keceriaan. Lebih jauh lagi, hal itu bisa menjauhkan manusia dari Rabb-Nya. Na’udzubillaahi mindzaalik.
Bagaimana memenej rasa sakit hati, agar tidak membuahkan dosa dan azab-Nya bagi kita sendiri? Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kiat-kiat tersendiri yang dapat menjadi penawar, bila diamalkan. Apa sajakah itu?
Jumat, 01 Juli 2011
MANAJEMEN AMARAH
Artikel ini dikutip dari berbagai sumber di internet plus penulis sedang malas untuk ngedit so.... langsung copas aja deh....... so.... MAAF BGT ya..... untuk yg artikelnya kena copas.q
MANAJEMEN AMARAH 1 :
Amarah adalah sifat alamiah yang dimiliki setiap manusia. Begitu kata Prof. DR. Dr. Dadang Hawari, Sp.KJ. Amarah manusia muncul karena adanya dorongan agresif yang lazim disebut dengan istilah human agressive. Dorongan rasa marah ini bisa saja muncul karena sesuatu terjadi di luar dugaan atau di luar perhitungan. Harapan yang tinggi sementara kenyataannya tidak demikian juga bisa menyebabkan kekecewaan dan dapat memicu rasa marah. Sejalan dengan dengan pandangan Dadang Hawari, psikolog E. Kristi Poerwandari dari Bagian Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mendefinisikan marah sebagai salah satu emosi. Secara garis besar dorongan marah itu disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor internal (dari dalam diri). Ada konflik internal yang tidak bisa terselesaikan dan akhirnya keluar dalam bentuk marah. Misalnya Anda merasa gusar karena tak bisa bangun pagi sehingga selalu terlambat rapat dengan klien. Kedua, faktor eksternal. Misalnya, ada provokasi dari luar.
MANAJEMEN AMARAH 1 :
Amarah adalah sifat alamiah yang dimiliki setiap manusia. Begitu kata Prof. DR. Dr. Dadang Hawari, Sp.KJ. Amarah manusia muncul karena adanya dorongan agresif yang lazim disebut dengan istilah human agressive. Dorongan rasa marah ini bisa saja muncul karena sesuatu terjadi di luar dugaan atau di luar perhitungan. Harapan yang tinggi sementara kenyataannya tidak demikian juga bisa menyebabkan kekecewaan dan dapat memicu rasa marah. Sejalan dengan dengan pandangan Dadang Hawari, psikolog E. Kristi Poerwandari dari Bagian Psikologi Klinis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, mendefinisikan marah sebagai salah satu emosi. Secara garis besar dorongan marah itu disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor internal (dari dalam diri). Ada konflik internal yang tidak bisa terselesaikan dan akhirnya keluar dalam bentuk marah. Misalnya Anda merasa gusar karena tak bisa bangun pagi sehingga selalu terlambat rapat dengan klien. Kedua, faktor eksternal. Misalnya, ada provokasi dari luar.
Langganan:
Postingan (Atom)

